Tuesday, November 3, 2009

TATA CARA PERNIKAHAN DALAM ISLAM

.Aqad Nikah
Dalam aqad nikah ada beberapa syarat, rukun dan kewajiban yang harus dipenuhi, iaitu:

1. Rasa suka sama suka dari kedua calon
2. Izin dari wali
3. Saksi (dua saksi yang adil)
4. Mahar
5. Ijab Qobul

.Wali
Yang dikatakan wali adalah orang yang paling dekat dengan si wanita. Dan orang paling berhak untuk menikahkan wanita merdeka adalah ayahnya, lalu pak cik nya, dan seterusnya ke atas. Boleh juga anaknya dan cucunya, kemudian saudara seayah seibu, kemudian saudara seayah, kemudian pak cik. [1]

Ibnu Baththal rahimahullaah berkata, “Mereka (para ulama) ikhtilaf tentang wali. Jumhur ulama di antaranya adalah Imam Malik, ats-Tsauri, al-Laits, Imam asy-Syafi’i, dan selainnya berkata, “Wali dalam pernikahan adalah ‘ashabah (dari pihak bapak), sedangkan pak cik dari saudara ibu, ayahnya ibu, dan saudara-saudara dari pihak ibu tidak memiliki hak wali.” [2]

Disyaratkan adanya wali bagi wanita. Islam mensyaratkan adanya wali bagi wanita sebagai penghormatan bagi wanita, memuliakan dan menjaga masa depan mereka. Walinya lebih mengetahui daripada wanita tersebut. Jadi bagi wanita, wajib ada wali yang membimbing urusannya, mengurus aqad nikahnya. Tidak boleh bagi seorang wanita menikah tanpa wali, dan apabila ini terjadi maka tidak sah pernikahannya.

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda bermaksud:

“Siapa saja wanita yang menikah tanpa seizin walinya, maka nikahnya bathil (tidak sah), pernikahannya bathil, pernikahannya bathil. Jika seseorang menggaulinya, maka wanita itu berhak mendapatkan mahar dengan sebab menghalalkan kemaluannya. Jika mereka berselisih, maka sulthan (penguasa) adalah wali bagi wanita yang tidak mempunyai wali.” [3]

Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda, maksudnya:

“Tidak sah nikah melainkan dengan wali.” [4]

Juga sabda beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam bermaksud:


“Tidak sah nikah kecuali dengan adanya wali dan dua saksi yang adil.” [5]

Tentang wali ini berlaku bagi gadis maupun janda. Ertinya, apabila seorang gadis atau janda menikah tanpa wali, maka nikahnya tidak sah.

Tidak sahnya nikah tanpa wali tersebut berdasarkan hadits-hadits di atas yang shahih dan juga berdasarkan dalil dari Al-Qur’anul Karim.

Allah Ta’ala berfirman:
"Dan apabila kamu menceraikan isteri-isteri (kamu), lalu sampai masa ‘iddahnya, maka jangan kamu (para wali) halangi mereka menikah (lagi) dengan calon suaminya, apabila telah terjalin kecocokan di antara mereka dengan cara yang baik. Itulah yang dinasihatkan kepada orang-orang di antara kamu yang beriman kepada Allah dan hari Akhir. Itu lebih suci bagimu dan lebih bersih. Dan Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” [Al-Baqarah : 232]

Ayat di atas memiliki asbaabun nuzul (sebab turunnya ayat), yaitu satu riwayat berikut ini. Tentang firman Allah: “Maka janganlah kamu (para wali) menghalangi mereka,” al-Hasan al-Bashri rahimahullaah berkata, Telah menceritakan kepadaku Ma’qil bin Yasar, sesungguhnya ayat ini turun berkenaan dengan dirinya. Ia berkata maksudnya:


“Aku pernah menikahkan saudara perempuanku dengan seorang laki-laki, kemudian laki-laki itu menceraikannya. Sehingga ketika masa ‘iddahnya telah berlalu, laki-laki itu (mantan suami) datang untuk meminangnya kembali. Aku katakan kepadanya, ‘Aku telah menikahkan dan mengawinkanmu (dengannya) dan aku pun memuliakanmu, lalu engkau menceraikannya. Sekarang engkau datang untuk meminangnya?! Tidak! Demi Allah, dia tidak boleh kembali kepadamu selamanya! Sedangkan ia adalah laki-laki yang baik, dan wanita itu pun menghendaki rujuk (kembali) padanya. Maka Allah menurunkan ayat ini: ‘Maka janganlah kamu (para wali) menghalangi mereka.’ Maka aku berkata, ‘Sekarang aku akan melakukannya (mewalikan dan menikahkannya) wahai Rasulullah.’” Kemudian Ma‘qil menikahkan saudara perempuannya kepada laki-laki itu.[6]

Hadits Ma’qil bin Yasar ini adalah hadits yang shahih lagi mulia. Hadits ini merupakan sekuat-kuat hujjah dan dalil tentang disyaratkannya wali dalam akad nikah. Artinya, tidak sah nikah tanpa wali, baik gadis maupun janda. Dalam hadits ini, Ma’qil bin Yasar yang berkedudukan sebagai wali telah menghalangi pernikahan antara saudara perempuannya yang akan ruju’ dengan mantan suaminya, padahal keduanya sudah sama-sama ridha. Lalu Allah Ta’ala menurunkan ayat yang mulia ini (yaitu surat al-Baqarah ayat 232) agar para wali jangan menghalangi pernikahan mereka. Jika wali bukan syarat, bisa saja keduanya menikah, baik dihalangi atau pun tidak. Kesimpulannya, wali sebagai syarat sahnya nikah.

Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullaah berkata, “Para ulama berselisih tentang disyaratkannya wali dalam pernikahan. Jumhur berpendapat demikian. Mereka berpendapat bahwa pada prinsipnya wanita tidak dapat menikahkan dirinya sendiri. Mereka berdalil dengan hadits-hadits yang telah disebutkan di atas tentang perwalian. Jika tidak, niscaya penolakannya (untuk menikahkan wanita yang berada di bawah perwaliannya) tidak ada artinya. Seandainya wanita tadi mempunyai hak menikahkan dirinya, niscaya ia tidak membutuhkan saudara laki-lakinya. Ibnu Mundzir menyebutkan bahwa tidak ada seorang Shahabat pun yang menyelisihi hal itu.” [7]

Imam asy-Syafi’i rahimahullaah berkata, “Siapa pun wanita yang menikah tanpa izin walinya, maka tidak ada nikah baginya (tidak sah). Karena Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Maka nikahnya bathil (tidak sah).’• Keharusan Meminta Persetujuan Wanita Sebelum Pernikahan

Apabila pernikahan tidak sah, kecuali dengan adanya wali, maka merupakan kewajiban juga meminta persetujuan dari wanita yang berada di bawah perwaliannya. Apabila wanita tersebut seorang janda, maka diminta persetujuannya (pendapatnya). Sedangkan jika wanita tersebut seorang gadis, maka diminta juga ijinnya dan diamnya merupakan tanda ia setuju.

Dari Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu bahwa Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang bermaksud:

“Seorang janda tidak boleh dinikahkan kecuali setelah diminta perintahnya. Sedangkan seorang gadis tidak boleh dinikahkan kecuali setelah diminta ijinnya.” Para Shahabat berkata, “Wahai Rasulullah, bagaimanakah ijinnya?” Beliau menjawab, “Jika ia diam saja.” [11]

Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallaahu ‘anhuma bahwasanya ada seorang gadis yang mendatangi Rasulullah shal-lallaahu ‘alaihi wa sallam dan mengadu bahwa ayahnya telah menikahkannya, sedangkan ia tidak ridha. Maka Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam menyerahkan pilihan kepadanya (apakah ia ingin meneruskan pernikahannya, ataukah ia ingin membatalkannya).

.Mahar

“Dan berikanlah mahar (maskawin) kepada perempuan yang kamu nikahi sebagai pemberian yang penuh kerelaan.”
[An-Nisaa’ : 4]

Mahar adalah sesuatu yang diberikan kepada isteri berupa harta atau selainnya dengan sebab pernikahan.

Mahar (atau diistilahkan dengan mas kawin) adalah hak seorang wanita yang harus dibayar oleh laki-laki yang akan menikahinya. Mahar merupakan milik seorang isteri dan tidak boleh seorang pun mengambilnya, baik ayah maupun yang lainnya, kecuali dengan keridhaannya.

Syari’at Islam yang mulia melarang bermahal-mahal dalam menentukan mahar, bahkan dianjurkan untuk meringankan mahar agar mempermudah proses pernikahan.

Imam Ahmad meriwayatkan bahwa Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:

“Di antara kebaikan wanita adalah mudah meminangnya, mudah maharnya dan mudah rahimnya.” [13]

‘Urwah berkata, “Yaitu mudah rahimnya untuk melahirkan.”

‘Uqbah bin ‘Amir radhiyallaahu ‘anhu berkata, “Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda maknaya:

‘Sebaik-baik pernikahan ialah yang paling mudah’ [14]

Seandainya seseorang tidak memiliki sesuatu untuk membayar mahar, maka ia boleh membayar mahar dengan mengajarkan ayat Al-Qur’an yang dihafalnya.
[15]

.Khutbah Nikah

Menurut Sunnah, sebelum dilangsungkan akad nikah diadakan khutbah terlebih dahulu, yang dinamakan Khutbatun Nikah atau Khutbatul Hajat. [16] Adapun teks Khutbah Nikah adalah sebagai berikut:

Segala puji hanya bagi Allah, kami memuji-Nya, memohon pertolongan dan ampunan kepada-Nya, kami berlindung kepada Allah dari kejahatan diri-diri kami dan kejelekan amal perbuatan kami. Barangsiapa yang Allah beri petunjuk, makhttp://www.blogger.com/img/blank.gifa tidak ada yang dapat menyesatkannya, dan barangsiapa yang Allah sesatkan, maka tidak ada yang dapat memberinya petunjuk.
Aku bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam adalah hamba dan Rasul-Nya.


“Wahai orang-orang yang beriman! Bertaqwalah kepada Allah dengan sebenar-benar taqwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim.”

[Ali ‘Imran : 102]

"Wahai manusia! Bertaqwalah kepada Rabb-mu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu (Adam), dan (Allah) menciptakan pasangannya (Hawa) dari (diri)nya; dan dari keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Bertaqwalah kepada Allah yang dengan Nama-Nya kamu saling meminta, dan (peliharalah) hubungan kekeluargaan. Sesungguh-nya Allah selalu menjaga dan mengawasimu.” [An-Nisaa' : 1]

"Wahai orang-orang yang beriman! Bertaqwalah kamu kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar, nis-caya Allah akan memperbaiki amal-amalmu dan meng-ampuni dosa-dosamu. Dan barangsiapa menaati Allah dan Rasul-Nya, maka sungguh, dia menang dengan kemenangan yang besar.” [Al-Ahzaab : 70-71]

Di setiap khutbahnya, Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam selalu memulai dengan memuji dan menyanjung Allah Ta’ala serta ber-tasyahhud (mengucapkan dua kalimat syahadat) sebagaimana yang diriwayatkan oleh para Shahabat:
1. Dari Asma’ binti Abu Bakar radhiyallaahu ‘anha, ia berkata: “... Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam memuji Allah dan menyanjung-Nya, kemudian beliau bersabda: Amma ba’du....” (HR. Al-Bukhari, no. 86, 184 dan 922)
2. ‘Amr bin Taghlib, dengan lafazh yang sama dengan hadits Asma’. (HR. Al-Bukhari, no. 923)
3. ‘Aisyah radhiyallaahu ‘anha berkata: “...Tatkala selesai shalat Shubuh Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam menghadap kepada para Shahabat, beliau bertasyahhud (mengucapkan kalimat syahadat) kemudian bersabda: Amma ba’du...” (HR. Al-Bukhari, no. 924)
4. Abu Humaid as-Sa’idi berkata: “Bahwasanya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam berdiri khutbah pada waktu petang sesudah shalat (‘Ashar), lalu beliau bertasyahhud dan menyanjung serta memuji Allah yang memang hanya Dia-lah yang berhak mendapatkan sanjungan dan pujian, kemudian bersabda: Amma ba’du...” (HR. Al-Bukhari no. 925).

Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda maksudnya:

“Setiap khutbah yang tidak dimulai dengan tasyahhud, maka khutbah itu seperti tangan yang berpenyakit lepra/kusta.”
(HR. Abu Dawud no. 4841; Ahmad II/ 302, 343; Ibnu Hibban, no. 1994-al-Mawaarid; dan selainnya. Lihat Silsilah al-Ahaadiits ash-Shahiihah no. 169).

Menurut Syaikh al-Albani, yang dimaksud dengan tasyahhud di hadits ini adalah khutbatul haajah yang diajarkan oleh Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam kepada para Shahabat radhiyallaahu ‘anhum, yaitu: “Innalhamdalillaah...” (Hadits Ibnu Mas’ud).

Kata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullaah: “Khutbah ini adalah Sunnah, dilakukan ketika mengajarkan Al-Qur-an, As-Sunnah, fiqih, menasihati orang dan semacamnya.... Sesungguhnya hadits Ibnu Mas’ud radhiyallaahu ‘anhu, tidak mengkhususkan untuk khutbah nikah saja, tetapi khutbah ini pada setiap ada keperluan untuk berbicara kepada hamba-hamba Allah, sebagian kepada se-bagian yang lainnya...”
(Majmuu’ Fataawaa Syaikhil Islaam Ibni Taimiyyah, XVIII/286-287)

Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullaah berkata, “...Sesungguhnya khutbah ini dibaca sebagai pembuka setiap khutbah, apakah khutbah nikah, atau khutbah Jum’at, atau yang lainnya (seperti ceramah, mengajar dan yang lainnya-pent.), tidak khusus untuk khutbah nikah saja, sebagaimana disangka oleh sebagian orang...” (Khutbatul Hajah (hal. 36), cet. I/ Maktabah al-Ma’arif).

Kemudian beliau melanjutkan: “Khutbatul haajah ini hukumnya sunnah bukan wajib, dan saya membawakan hal ini untuk menghidup-kan Sunnah Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam yang ditinggalkan oleh kaum Muslimin dan tidak dipraktekkan oleh para khatib, penceramah, guru, pengajar dan selain mereka. Mereka harus berusaha untuk menghafalnya dan mempraktekkannya ketika memulai khutbah, ceramah, makalah, atau pun mengajar. Semoga Allah merealisasikan tujuan mereka.” (Khutbatul Haajah (hal. 40) cet. I/ Maktabah al-Ma’arif, dan an-Nashiihah (hal. 81-82) cet. I/ Daar Ibnu ‘Affan/th. 1420 H.)

Amma ba’du: [17]

[Disalin dari buku Bingkisan Istimewa Menuju Keluarga Sakinah, Penulis Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Penerbit Putaka A-Taqwa Bogor - Jawa Barat, Cet Ke II Dzul Qa'dah 1427H/Desember 2006]
__________


[1]. Al-Mughni (IX/129-134), cet. Darul Hadits.
[2]. Fat-hul Baari (IX/187).
[3]. Hadits shahih: Diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 2083), at-Tirmidzi (no. 1102), Ibnu Majah (no. 1879), Ahmad (VI/47, 165), ad-Darimi (II/137), Ibnul Jarud (no. 700), Ibnu Hibban no. 1248-al-Mawaarid), al-Hakim (II/168) dan al-Baihaqi (VII/105) dan lainnya, dari ‘Aisyah radhiyallaahu ‘anha. Hadits ini dishahihkan Syaikh al-Albani dalam kitabnya Irwaa-ul Ghaliil (no. 1840), Shahiih Sunan Ibni Majah (no. 1524) dan Shahiih Sunan at-Tirmidzi (no. 880).
[4]. Hadits shahih: Diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 2085), at-Tirmidzi (no. 1101), Ibnu Majah (no. 1879), Ahmad (IV/394, 413), ad-Darimi (II/137), Ibnu Hibban (no. 1243 al-Mawaarid), al-Hakim (II/170, 171) dan al-Baihaqi (VII/107) dari Shahabat Abu Musa al-Asy’ari radhiyallaahu ‘anhu.
[5]. Hadits shahih: Diriwayatkan oleh ‘Abdurrazzaq (VI/196, no. 10473), ath-Thabrani dalam Mu’jamul Kabir (XVIII/142, no. 299) dan al-Baihaqi (VII/125), dari Shahabat ‘Imran bin Hushain. Hadits ini dishahihkan Syaikh al-Albani rahimahullaah dalam Shahiih al-Jaami’ish Shaghiir (no. 7557). Hadits-hadits tentang syarat sahnya nikah wajib adanya wali adalah hadits-hadits yang shahih. Tentang takhrijnya dapat dilihat dalam kitab Irwaa-ul Ghaliil fii Takhriij Ahaadiits Manaris Sabil (VI/235-251, 258-261, no. 1839, 1840, 1844, 1845, 1858, 1860).
[6]. Hadits shahih: Diriwayatkan oleh al-Bukhari (5130), Abu Dawud (2089), at-Tirmidzi (2981), dan lainnya, dari Shahabat Ma’qil bin Yasar radhiyallaahu ‘anhu.
[7]. Fat-hul Baari (IX/187).
[8]. Al-Umm (VI/35), cet. III/Darul Wafaa’, tahqiq Dr. Rif’at ‘Abdul Muththalib, th. 1425 H.
[9]. l-Muhalla (IX/451).
[10]. Dinukil secara ringkas dari kitab al-Mughni (IX/119), cet. Darul Hadits-Kairo, th. 1425 H, tahqiq Dr. Muhammad Syarafuddin dan Dr. As-Sayyid Muhammad as-Sayyid.
[11]. Hadits shahih: Diriwayatkan oleh al-Bukhari (no. 5136), Muslim (no. 1419), Abu Dawud (no. 2092), at-Tirmidzi (no. 1107), Ibnu Majah (no. 1871) dan an-Nasa-i (VI/86).
[12]. Diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 2096), Ibnu Majah (no. 1875). Lihat Shahih Ibni Majah (no. 1520) dan al-Wajiiz (hal. 280-281).
[13]. Hadits hasan: Diriwayatkan oleh Ahmad (VI/77, 91), Ibnu Hibban (no. 1256 al-Mawaarid) dan al-Hakim (II/181). Hadits ini dihasankan oleh Syaikh al-Albani rahimahullaah dalam Irwaa-ul Ghaliil (VI/350).
[14]. Hadits shahih: Diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 2117), Ibnu Hibban (no. 1262 al-Mawaarid) dan ath-Thabrani dalam Mu’jamul Ausath (I/221, no. 724), dari ‘Uqbah bin ‘Amir radhiyallaahu ‘anhu. Dishahihkan Syaikh al-Albani rahimahullaah dalam Shahiihul Jaami’ (no. 3300).
[15]. Berdasarkan hadits yang diriwauyatkan oleh al-Bukhari (no. 5087) dan Muslim (no. 1425).
[16]. Lihat kitab Khutbatul Haajah oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani, cet. Maktabah al-Ma’arif, th. 1421 H, dan Syarah Khutbah Haajah oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, takhrij wa ta’liq Syaikh Salim bin ‘Ied al-Hilali, cet. Daarul Adh-ha, th. 1409 H.
[17]. Khutbah ini dinamakan khutbatul haajah (ÎõØúÈóÉõ ÇáúÍóÇÌóÉö), yaitu khutbah pembuka yang biasa dipergunakan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam untuk mengawali setiap majelisnya. Beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam juga mengajarkan khutbah ini kepada para Shahabatnya radhiyallaahu ‘anhum. Khutbah ini diriwayatkan dari enam Shahabat Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Diriwayatkan oleh Imam Ahmad (I/392-393), Abu Dawud (no. 1097 dan 2118), an-Nasa-i (III/104-105), at-Tirmidzi (no. 1105), Ibnu Majah (no. 1892), al-Hakim (II/182-183), ath-Thayalisi (no. 336), Abu Ya’la (no. 5211), ad-Darimi (II/142) dan al-Baihaqi (III/214 dan VII/146), dari Sahabat ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallaahu ‘anhu. Hadits ini shahih.
Hadits ini ada beberapa syawahid (penguat) dari beberapa Shahabat, yaitu:
1. Shahabat Abu Musa al-Asy’ari (Majma’uz Zawaa-id IV/288).
2. Shahabat ‘Abdullah bin ‘Abbas (Muslim no. 868, al-Baihaqi III/214).
3. Shahabat Jabir bin ‘Abdillah (Ahmad II/37, Muslim no. 867 dan al-Baihaqi III/214).
4. Shahabat Nubaith bin Syarith (al-Baihaqi III/215).
5. Ummul Mukminin ‘Aisyah radhiyallaahu ‘anha.
Lihat Khutbatul Haajah Allatii Kaana Rasuulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam Yu’allimuhaa Ash-haabahu, karya Imam Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullaah, cet. IV/ al-Maktab al-Islami, th. 1400 H dan cet. I/ Maktabah al-Ma’arif, th. 1421 H.

Tuesday, October 27, 2009

Ahlan Wasahlan Wa Ya Marhaban

Assalamualaikum..
Ahlan bikum, Kullu sanah wa antum toyyieb..
Maaf sangat2 , lama sgguh x d update blog ni, rasanya sejak 3bln balik mesia, baru nie b’peluang nak jenguk blog sendiri..
Yang pasti suasana kat mesia betul2 mencabar, keadaan sekeliling teramat2 perlukan kita, bab kata As-Syahid Imam Hasan Al-Banna, Al-waajibat aksaru minal auqoot..
Okey, ni jer yang sempat nak tulis hari nie..
Lepas ni akan di update mcm seperti biasa k, iallah.
Okey untk semua ikhwah, slmt mlagkah ke Universiti, nanti jumpa smula kat Yemen yer..
Ok, ma assalamah wa ilalliqo'..

Monday, June 15, 2009

SYEIKH FATHI YAKAN ; BAHAYA AIDS HARAKI DALAM GERAKAN ISLAM


Seorang Mujahid Dakwah, Ustaz Fathi Yakan, yang pernah berkunjung ke Negara kita, dalam rangka menghadiri Muktamar Agung PAS tahun 1997, telah memperingatkan kita semua tentang bahaya AIDS Haraki, iaitu istilah yang menggambarkan fenomena yang telah dan sedang terjadi di sebahagian harakah Islamiah di seluruh dunia. Ini adalah peringatan penting beliau kepada para aktivis dakwah, sejak enam belas tahun yang lalu di dalam buku beliau : Ihzaruu AIDS Al-Haraki (Berjaga-jagalah, AIDS Haraki). Wa Zakkir !! Fa inna az-Zikra tanfa`ul mu’minin.
Penyakit AIDS adalah merujuk keadaan seseorang yang mengalami kehilangan daya tahan penyakit di dalam tubuh, sehingga menjadi mudah dijangkiti penyakit dengan keadaan yang parah. Sehingga kini, penyakit yang disebabkan oleh virus HIV ini, masih belum ditemui ubat yang dapat menyembuhkan penyakit merbahaya ini. Para penghidap HIV/AIDS ini akan berhadapan dengan risiko kematian.

Dalam buku “Ihdzaruu Al-Aids Al-Harakiy (1989)”, Al-Ustaz Fathi Yakan secara khusus mengingatkan kes kehancuran harakah dan tanzim dakwah di Lubnan. Hal yang sama juga berlaku di beberapa Negara Muslim yang terdapat harakah Islamiah di situ. Beliau berpendapat, kes-kes kehancuran tanzim dakwah bermula dari kelemahan daya tahan dalaman jama`ah, yang seringkali terjadi di saat mereka berada di atas paksi Mihwar Siyasi (Orbit Politik).

Hal ini sering terjadi ketika harakah Islamiah memasuki wilayah amal siyasi (kerja politik) untuk menyempurnakan wilayah `amal dakwah dan meningkatkan sasaran dakwah yang lainnya. Mengapa terjadi seperti ini? Apakah penglibatan harakah Islamiah dalam wilayah politik adalah suatu kekeliruan dan kesilapan? Tentu saja tidak !! Bahkan ini adalah suatu kewajipan kita semua.

Konsep Syumuliatul Islam yang diperkenalkan Imam As-Syahid Hasan al-Banna di dalam usul pertama dari Usul `Isyrin, telah memberikan gambaran pentingnya kita bergerak di paksi politik demi tertegaknya Ad-Din wa Ad-Daulah. Sesungguhnya saat ini, Syumuliayatud Dakwah menuntut kita memasuki dan menguasai wilayah politik.

Mengenal Virus Merbahaya

Persoalan yang timbul ialah bagaimana virus ini boleh berjangkit dan menjadi penyebab kehancuran kepada harakah? Dalam analisa dan tajribah Ustaz Fathi Yakan, terdapat 7 faktor utama yang menyebabkan hal ini terjadi :

1. Hilangnya Manna`ah I`tiqodiyah (imuniti keyakinan) dan tidak terbinanya bangunan dakwah di atas dasar fikrah dan mabda’ yang benar dan jitu. Akibat yang timbul dari faktor ini, tanzim dakwah tidak tertegak di atas fikrah yang benar dan utuh. Adakalanya sebuah tanzim hanya wujud sebagai Tanzim Ziyami, iaitu tanzim yang berdiri atas landasan wala’ kepada seorang pemimpin yang diagungkan.
Ada juga yang bergerak sebagai Tanzim Syakhshi, iaitu tanzim yang tertegak atas bayangan keperibadian (figure) seorang pemimpin. Terdapat juga yang berbentuk Tanzim Mashlahi Naf`i yang berorientasi mewujudkan tujuan perlaksanaan pengisian semata-mata. Kerana itu, binaan tanzim menjadi begitu rapuh, tidak mampu menghadapi kesulitan dan cabaran. Akhirnya bergoncanglah binaan dan bercerai-berai shofnya sehingga terjadilah berbagai peristiwa dan tragedi.

2. Perkaderan dan pembinaan anggota berdasarkan kuantiti, dengan mengutamakan bilangan dan jumlah keahlian menjadi keutamaan qiyadah. Seringkali dianggap, bahawa jumlah yang banyak itu akan menjadi penentu kemenangan dan kejayaan. Kondisi ini mungkin ada kebenarannya ketika sebuah harakah dakwah tampil secara rasmi sebagai parti politik dan terlibat dalam pilihanraya.

Akan tetapi hal ini perlu diawasi kerana, orientasi ini akan memudahkan pihak-pihak tertentu cuba mewujudkan qaidah sya’biyah atau dasar dokongan sosial untuk kepentingan merealisasikan tujuan-tujuannya. Dalam situasi tertentu akan muncul keperibadian atau tokoh-tokoh tertentu dalam harakah yang memperjuangkan kepentingan peribadi dengan memanfaatkan qaidah sya’biyah yang dibinanya. Pada saat ini, qa`idah sya’biyah ini akan bertindak sebagai musuh dalaman kepada harakah Islamiah.

3. Isti’jal (tergesa-gesa) untuk meraih kemenangan, meskipun tidak seimbang dengan persediaan yang mencukupi, walaupun ditahap minimum. Kemenangan politik bererti memperolehi kekuasaan. Setiap aktivis politik akan dikuasai semangat mencari dan mengejar kekuasaan sehingga tidak ada penghujungnya.
Menurut Ustaz Fathi Yakan, kekuasaan yang diperolehi di manapun akan menuntut pembahagian ghanimah (harta rampasan perang) kepada penjaga sesuai dengan perbandingan tugasan yang ditanggung seseorang. Ghanimah yang telah diperoleh itu kadangkala melahirkan cubaan, fitnah dan bencana kerosakan dalam harakah.

Permasalahan dasarnya adalah penipuan dalam pembahagian, antara perseorangan, pemimpin serta penguasa yang bercita-cita mendapatkan bahagian kekuasaan yang banyak. Akhirnya prinsip perjuangan tergadai dan agenda maddiyah dengan mengejar kepentingan hawa nafsu akan menjadi tuntutan perjuangan mereka.

Ketika ini hilanglah roh aqidah dalam perjuangan, tumpuan hanya diberikan kepada percaturan strategi menghadapi musuh dalam pilihanraya dengan meninggalkan agenda pembinaan ruhiyah di kalangan jundiyah dan qiyadah. Akhirnya “yang dikejar tak dapat, yang dikendong keciciran ”.

4. Binaan tanzim dipengaruhi unsur luaran. Samada dipengaruhi oleh latarbelakang kekuatan yang berada di sekelilingnya dari aspek politik, ekonomi dan lain-lain aspek. Akibatnya, tanzim akan kehilangan potensi keaslian perjuangan, kehilangan orientasi dan arah tujuan politik. Kerana hilangnya asholah dakwah (keaslian), tanzim menjadi alat kepentingan pihak lain, dan segala keputusan dan tindakan dipengaruhi kelompok tertentu.

5. Munculnya berbagai aliran dan kelompok dalam harakah. Hal ini sering terjadi kepada harakah yang telah mengalami perpecahan lantaran hilangnya wahdatul fikr dan wahdatul `amal. Kesan dari permasalahan ini akan timbulnya ta`addudul wala’, justeru akan timbul pertikaian, perebutan pengaruh dan kekuasaan untuk meraih hasrat dan cita-cita peribadi atau kelompok tertentu.

6. Campur tangan pihak luar dengan pengaruh dominan politik, ideologi, perisikan, inteligen dengan berbagai cara penyamaran untuk menyerang musuh dalam harakah dengan tujuan menghancurkan kekuatan dan kesatuan di dalam tanzim. Ruang yang terbuka untuk campur tangan atau penyusupan amat luas, terutama melalui ruang politik, iaitu dengan menawarkan pelbagai maslahah siasah.

Kekuatan luaran dan campur tangan ke dalam tanzim harakah berlaku ketika jamaah mengalami kelemahan, miskinnya roh `aqidah di kalangan jundiyah dan qiyadah, kuatnya kecenderungan mengejar maddiyyah dan jawatan.

7. Lemah atau hilangnya kesedaran politik (wa’yu siyasi) dalam harakah. Sesebuah harakah yang tidak memiliki wa’yu siyasi yang tinggi dan baik, tidak akan dapat mengimbangi peredaran zaman, gagal mengambil istifadah dan pengajaran dari pengalaman lepas, tidak mengkaji peranan harakah di masa depan dan tidak mampu membuat suatu keputusan politik setempat berdasarkan situasi dan kondisi politik internasional.

Apabila harakah mengalami kelemahan seperti ini, akan berlaku sikap yang kontradiktif dan mudah terbawa arus. Keadaan ini memudah unsur-unsur negatif dari luar mengawal keputusan politik dalam harakah dan mengenepikan peranan majlis syura dalam jamaah.

Semua faktor kondisi yang dinyatakan oleh Ustaz Fathi Yakan adalah berkesimpulan dari masalah mendasar harakah Islamiah masa kini, iaitu “politik mendominasi tarbiah”. Keadaan ini menyebabkan suasana atau munakh harakah dikuasai oleh politik, bahkan sangat mempengaruhi pendirian dan sikap para anggota dan pimpinan harakah.

Kewajipan Memelihara Asholatud Dakwah (Keaslian Dakwah)

Permasalahan dan penyakit yang berlaku di dalam harakah dakwah, hanya dapat dikawal dan diubati dengan memelihara keaslian dakwah yang kita warisi dari Baginda Rasulullah SAW. Syeikh Mustafa Masyhur Rahimahullah, dalam sebuah tulisannya, Qadhaya Asasiyyah `Ala Thoriqud Dakwah, menekankan betapa pentingnya Muhafazhah `Ala al-Asholah (memelihara keaslian dakwah), agar harakah terjamin berada di jalan yang benar menuju sasaran.

Sekecil-kecil penyelewengan dari asholah dakwah, pasti akan melahirkan kegelinciran yang semakin hari semakin besar, serta menyeret harakah jauh dari jalan yang benar dan gagal mencapai sasaran harakah. Imam Asy-Syahid Hasan al-Banna selalu menekankan agar jamaah beriltizam dengan Islam, Al-Quran dan As-Sunnah serta melangkah ke medan dakwah berpandukan Sirah Rasulullah SAW ketika beliau menegakkan Daulah Islamiah pertama. (Mustafa Masyhur, Qadhaya Asasiyyah `Ala Thoriqud Dakwah).

Memelihara Asholah Dakwah bererti meletakkan kepentingan kepada tarbiyah. Kerana itu, tarbiyah dalam jemaah tidak boleh dikesampingkan atau diabaikan demi memenuhi tuntutan kegiatan politik, publisiti bahkan jihad sekalipun. Perencanaan takhtit dan tanzim semata-mata tidak mencukupi tanpa tarbiyah untuk membina izzah harakah di mata musuh Islam.

Usrah merupakan tulang belakang tarbiyah dalam jamaah, yang berperanan sebagai wasilah yang mendidik ahli dan membentuk rijal. Semua anggota di manapun peringkat jamaah, samada ahli hinggalah pimpinan tertinggi wajib mengikuti peringkat-peringkat tarbiyah sehingga sampai ajalnya.

Kesimpulan

Ternyata, kewajipan itu lebih banyak dari batas waktu yang kita miliki. Kerana itu, dakwah kita tidak dibina atas dasar rukhshah (keringanan), tetapi dibangun atas dasar `azhimah dan tekad yang teguh. Jika hal ini diperhatikan dengan sewajarnya, dari peringkat ahli sehinggalah pimpinan jamaah, segala permasalahan yang sering melanda harakah dan dakwah, nescaya virus bahaya yang menular dalam tanzim binaan jamaah dapat diatasi.

Semoga kita mengambil pelajaran dan manfaat dari taushiyah yang disampaikan sejak enam belas tahun silam oleh seorang da`ie yang menjadi qudwah kepada kita, demi kebaikan dan kejayaan harakah dakwah di Negara kita.

Kepada para Pejuang yang merindukan kejayaan…

Kepada Rakyat yang kebingungan di persimpangan jalan Kepada Pewaris peradaban yang telah menggoreskan

Sebuah catatan membanggakan di lembar sejarah manusia Wahai kalian yang rindu kemenangan…..

Wahai kalian yang turun ke medan Demi mempersembahkan jiwa dan raga Untuk Islam tercinta…

Diantara tulisan yang perlu dihayati oleh para Da'ie.
PemergianMu amat dirasai ummah khususnya dipersada medan Dakwah.
Moga Allah merahmati pemergian Mu..

Wednesday, May 6, 2009

Al-Quran Pencetus Manusia Berfikiran Kritis

Al-Quran merupakan sumber segala ilmu pengetahuan. Hal terbaik yang dapat diminta daripada kitab suci ini ialah dorongannya kepada manusia supaya berfikir. Di dalam al-Quran tidak terdapat suatu hukum yang bersifat melumpuhkan akal manusia untuk memikirkan kandungn maknanya dan tiada sesuatu perkara pun yang merintangi akal untuk mencari pelbagai ilmu yang bersifat luas. Maksudnya, al-Furqan tidak melarang mereka mencari ilmu dan berfikir, asalkan masih dalam ruang lingkup kebenaran seperti kata ungkapan ‘buat apa sahaja selagi benar’, bahkan al-Quran menggesa manusia berfikir dan mencari ilmu pengetahuan. Ia menjamin cara berfikir yang sihat dan pandangan yang benar terhadap tanda-tanda kekuasaan Allah SWT yang diciptakanNya sebagai saranan kepada manusia agar beriman kepadaNya. Berfikir adalah suatu perkara yang amat diperlukan bagi memahami semua bentuk peringatan, sebagaimana firman Allah SWT yang bermaksud:

Katakanlah (Wahai Muhammad): "Aku hanyalah mengajar dan menasihati kamu dengan satu perkara sahaja, iaitu: hendaklah kamu bersungguh-sungguh berusaha mencari kebenaran kerana Allah semata-mata, sama ada dengan cara berdua (dengan orang lain), atau seorang diri; kemudian hendaklah kamu berfikir sematang-matangnya (untuk mengetahui salah benarnya ajaranKu" (Surah Saba’: 46)


Apabila kita memerhatikan al-Quran dengan tinjauan untuk menyelidik, kita akan dapati bahawa sesungguhnya ia mengarahkan akal manusia untuk mempergunakan kaedah yang lengkap dalam mencari hakikat. Antara ayat-ayat al-Quran yang berkisar tentang pemikiran kritis adalah:

1)(Mengapa mereka yang kafir masih mengingkari akhirat) tidakkah mereka memerhatikan keadaan unta bagaimana ia diciptakan? (Surah al-Ghasiyah: 17)

Kata soal ‘kaifa’ (bagaimana) itu menghendaki sebuah kajian dan cara untuk mengetahui hakikat sesuatu perkara. Allah SWT tidak memberi jawapan secara terang-terangan agar manusia itu bukan sekadar mengetahui sesuatu bahkan juga mengetahui bagaimana sesuatu perkara itu terjadi supaya manusia benar-benar mengenali dan meyakini sesuatu hal berlandaskan ilmu pengetahuan tentang apa yang telah diketahuinya. Dalam ayat di atas, al-Quran telah memusatkan perhatian kita sebentar tentang kejadian unta yang merupakan haiwan terdapat khususnya di negara-negara Arab sehingga pengkajiannya tidak memerlukan sesuatu objek yang sukar untuk dicari. Kita pasti akan berfikir dan mengkaji bagaimana unta dicipta berdasarkan firman Allah SWT tersebut. Hasilnya kita akan dapati bahawa istimewanya unta adalah mampu hidup selama beberapa hari tanpa air dan masih aktif di bawah terik mentari. Bonggol unta yang merupakan gumpalan lemak berfugsi menyediakan nutrient berkhasiat secara berkala semasa musim kekurangan dan kebuluran. Melalui sistem ini, ia mampu hidup selama tiga minggu tanpa setitis air ketika mengalami penyusutan 33% berat badan. Lantas, orang yang mahu berfikir akan memikirkan lagi siapakah pencipta unta yang mempunyai ciri sehebat begitu. Manusia sama sekali tidak pernah menjadikannya dan tentu sekali ia tidak terjadi dengan sendirinya. Maka, sudah pastilah pembuatnya tidak lain dan tidak bukan ialah Allah SWT Yang Maha Berkuasa.

2)"Wahai orang-orang yang beriman! jika datang kepada kamu seorang fasik membawa sesuatu berita, maka selidikilah (untuk menentukan) kebenarannya, supaya kamu tidak menimpakan sesuatu kaum dengan perkara yang tidak diingini - Dengan sebab kejahilan kamu (mengenainya) - sehingga menjadikan kamu menyesali apa yang kamu telah lakukan". (Surah al-Hujurat: 6)

Fokus utama perbahasan adalah pada ayat yang bermaksud “maka selidikilah (untuk menentukan) kebenarannya”, di mana al-Quran mengajar manusia agar meneliti sesuatu maklumat yang diterima samada benar atau sebaliknya dan bukannya menerima bulat-bulat sesuatu perkara tanpa membuat penilaian terlebih dahulu. Penelitian dan penilaian terhadap sesuatu maklumat ini amat penting agar kita tidak tersalah dalam berfikir, bertindak dan membuat keputusan lebih-lebih lagi ia melibatkan orang lain yang akan membawa akibat yang lebih besar dan buruk seperti penganiayaan, kezaliman dan fitnah. Penurunan ayat ini juga adalah sebagai peringatan kepada orang Islam agar tidak menerima keterangan hanya daripada sebelah pihak sahaja.

3)"Dan jika engkau menurut kebanyakan orang yang ada di muka bumi, nescaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah; tiadalah yang mereka turut melainkan sangkaan semata-mata, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta". (Surah al-An’am: 116)


Ayat ini mendidik manusia supaya bersikap konsisten pada kebenaran. Ia menyatakan bilangan majoriti samada pada pendapat, kepercayaan dan sebagainya tidak menjamin kebenaran sesuatu perkara. Oleh itu, apabila telah dikaji dan diketahui kebenaran sesuatu hal, maka hendaklah berpegang teguh kepada keputusan yang telah dibuat dan jangan goyah dengan sebarang kekeliruan yang cuba ditimbulkan. Daripada ayat ini juga, ia mengajar manusia agar berfikir sendiri tanpa mengikut-ikut pendirian orang lain.

4)"Wahai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu semua sentiasa menjadi orang-orang yang menegakkan keadilan kerana Allah, lagi menerangkan kebenaran; dan jangan sekali-kali kebencian kamu terhadap sesuatu kaum itu mendorong kamu kepada tidak melakukan keadilan. Hendaklah kamu berlaku adil (kepada sesiapa jua) kerana sikap adil itu lebih hampir kepada taqwa dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui dengan mendalam akan apa yang kamu lakukan". (Surah al-Ma’idah: 8)


Ayat ini membicarakan kepentingan berfikir secara objektif dan tidak bias, iaitu adil. Keadilan hendaklah ditegakkan di mana sahaja tanpa mengira tempat, bangsa dan agama, samada kepada orang yang kita sukai atau pun tidak. Allah SWT juga melarang kita bersikap berat sebelah kerana kebencian kita terhadap seseorang atau sesuatu golongan, bahkan al-Quran sentiasa menggesa umat Islam berlaku adil baik kepada kawan mahu pun lawan kerana keadilan itu akan mendekatkan diri seseorang kepada taqwa. Oleh itu, Allah SWT sangat memurkai orang yang tidak adil.

5)"Dan janganlah Engkau mengikut apa yang engkau tidak mempunyai pengetahuan mengenainya…" (Surah al-Isra’: 36)


Ayat ini menolak sikap taqlid sebaliknya Allah SWT mengajar manusia agar berfikran terbuka, bukannya mengongkong fikiran dalam kejahilan dan hanya mengikut-ikut pandangan dan pendirian orang lain secara membuta tuli. Oleh itu, Dia mendorong manusia mencari ilmu dalam pelbagai bidang agar mampu memerhatikan kebenaran yang ada pada sesuatu kejadian lantas akan dapat memberi respon dan hujah dengan baik dan mantap dalam pelbagai lapangan ilmu pengetahuan yang diceburi.

Kesimpulannya, kesemua ayat di atas membahaskan kepentingan penggunaan akal dengan betul. Daripada ayat-ayat tersebut, Allah SWT menuntut manusia agar mengkaji hakikat sesuatu kejadian bagi memantapkan lagi pengetahuan dan keimanan kepadaNya tetapi bukannya mengetahui sesuatu hal hanya melalui mulut orang lain dan mempercayai sesuatu bukan berdasarkan ilmu. Al-Quran juga mengajar manusia agar sentiasa berhati-hati dalam menerima sesuatu maklumat di mana keperluan kepada penyelidikan dan penelitian amatlah mustahak sebelum menerimanya. Selain itu, ia juga menyarankan manusia supaya bersikap konsisten dalam mempertahankan kebenaran walaupun pada masa itu pelbagai dugaan yang datang.

Seterusnya, al-Kitab amat menitikberatkan sifat adil yang perlu diamalkan dalam semua keadaan, tempat dan setiap masa. Dalam pada itu, ia amat menentang keras sikap bertaqlid buta kerana manusia telah dikurniakan akal oleh Allah SWT yang digunakan untuk berfikir sekaligus al-Furqan menitikberatkan kepentingan ilmu kepada manusia kerana kejahilan akan mendekatkan seseorang kepada kekufuran.

Justeru, melalui huraian elemen-elemen pemikiran kritis di atas, terbuktilah bahawa al-Quran itu adalah pencetus kepada manusia berfikiran kritis. Dalam pada itu, al-Quran bukan setakat membawakan lima contoh firman Allah SWT sahaja seperti yang telah dikemukakan di atas yang menggesa umatNya berfikiran kritis, malah terdapat banyak lagi ayat-ayat yang menyarankan agar kita berbuat demikian. Kuncinya di sini ialah sikap kita. Sesiapa yang rajin mencari dan mengkaji sesuatu maklumat, pasti dia akan beroleh pengetahuan dan pengalaman baru. Begitulah sebaliknya bagi mereka yang malas menyelidiki dan meneliti kejadian-kejadian alam yang menjadi salah satu tanda kekuasaan dan kebesaran Allah SWT. Bukankah ilmu itu wajib dituntut oleh setiap insan yang bergelar Muslim?

Tuesday, April 14, 2009

Gadis Berniqob SIRI: 5

الصلاة خير من النوم


Kedengaran sayup-sayup suara Muazin melaungkan azan Subuh. Alice terjaga daripada tidurnya. Dia melihat sekeliling. Hairan, “Ini bukan rumah aku”, bisiknya di dalam hati. Akhirnya dia tersenyum sendirian, baru dia teringat bahawa dia sedang berada di rumah sahabatnya Humaira. Alice mencari-cari Humaira. Dia terpandang Humaira sedang tekun membaca al-Quran. Humaira menoleh ke arah Alice.

“Awal Alice bangun,” Humaira bersuara.

“Terbangun dengar suara azan tadi. Ira buat apa tu?” Alice menyoal walaupun dia tahu Ira sedang membaca al-Quran.

“Baca al-Quran. Kalau Alice mengantuk, tidurlah dulu. Ira nak solat Subuh dengan ibu.”

“Okey,” jawab Alice ringkas sambil menarik selimutnya hingga ke kepala dan menutupi seluruh tubuhnya.

Usai solat Subuh berjemaah bersama ibunya. Humaira masih tetap duduk di atas sejadah. Mulutnya kumat kamit melafazkan Istighfar, memohon keampunan daripada Allah. Kadangkala dia seakan menangis apabila teringatkan kesilapan yang pernah dia lakukan. Sejarah hitam yang hampir meragut maruahnya. Humaira mengambil sebiji buku kecil berwarna merah jambu bertajuk ‘Perisai Muslim’. Ia merupakan buku yang mengumpulkan zikir-zikir dan doa-doa yang diambil daripada hadith-hadith Rasulullah sallallahu ‘alaihi wassalam. Judul asal buku itu ialah Hisnul Muslim, susunan seorang ulama’ bernama Shaikh Said bin Wahf al-Qahthani. Humaira menyelak helaian buku kecil tersebut, dia mencari zikir-zikir di waktu pagi yang masih belum dihafalnya. Kedengaran suara makcik Limah memanggil Humaira.

“Ira, Nampak tak buku zikir ibu yang warna pink tu?”

“Ni, ada dekat rak buku ni ibu,” jawab Humaira sambil tersenyum. Dia teringat buku merah jambu tersebut adalah buku merah jambu yang sama yang sedang dia gunakan. Baru sebulan yang lalu dia membeli buku zikir tersebut. Itupun selepas diperkenalkan oleh seorang sahabatnya di UIA. Dia membelikan sebiji lagi buku itu untuk ibunya, makcik Limah. Gembira tidak kepalang makcik Limah ketika Humaira menunjukkan buku tersebut kepada beliau. Banyak sungguh zikir-zikir dan doa-doa yang Rasulullah sallallahu ‘alaihi wassalam amalkan tetapi tidak diketahui masyarakat.

“Alhamdulillah, ibu ingat dah hilang buku zikir ibu ni. Kalau hilang susahlah, ibu bukan hafal zikir-zikir dan doa yang ada dalam buku ni.”

“Alah, kalau hilang, nanti Ira belikan yang baru untuk ibu. Di UIA ada banyak.”

“Eh, zikir pagi di muka surat mana ye Ira? Ibu lupalah.”

“Ni, muka surat 119,” Ira berkata sambil menunjukkan muka surat itu kepada ibunya.

Perbualan mereka terhenti. Kedua beranak itu menumpukan perhatian kepada doa dan zikir yang mereka baca.

Sayup-sayup Humaira dan makcik Limah membaca apa yang ada di dalam buku itu. Tiada kedengaran suara mereka. Perlahan.

أعوذ بالله من الشيطان الرجيم

“Aku berlindung dengan Allah daripada syaitan yang direjam.”

Diikuti dengan bacaan ayat Kursi, surah al-Ikhlas, al-Falaq, dan an-Nas sebanyak tiga kali. Diteruskan dengan pujian kepada Allah seraya memohon kesejahteraan untuk hari itu dan memohon perlindungan daripada kecelakaan yang mungkin berlaku dengan izinNya.

- أَصْبَحْنَا وَأَصْبَحَ الْمُلْكُ لِلَّهِ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ، لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرُ. رَبِّ أَسْأَلُكَ خَيْرَ مَا فِيْ هَذَا الْيَوْمِ وَخَيْرَ مَا بَعْدَهُ، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا فِيْ هَذَا الْيَوْمِ وَشَرِّ مَا بَعْدَهُ، رَبِّ أَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْكَسَلِ وَسُوْءِ الْكِبَرِ، رَبِّ أَعُوْذُ بِكَ مِنْ عَذَابٍ فِي النَّارِ وَعَذَابٍ فِي الْقَبْرِ.
“Kami hayati waktu pagi dan kerajaan hanya milik Allah, segala puji bagi Allah. Tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) kecuali Allah Yang Maha Esa, tiada sekutu bagiNya. BagiNya kerajaan dan bagiNya pujian. Dialah Yang Mahakuasa atas segala se-suatu. Ya Tuhan, aku mohon kepada-Mu kebaikan di hari ini dan kebaikan sesudahnya. Aku berlindung kepadaMu daripada kejahatan hari ini dan kejahatan sesudahnya. Wahai Tuhan, aku berlindung denganMu dari kemalasan dan kejelekan di hari tua. Wahai Tuhan! Aku berlindung kepadaMu dari seksaan neraka dan kubur.”

Selepas dua puluh minit memuji dan memohon kepada Allah. Humaira menutup buku Hisnul Muslim. Dia bergerak ke arah Alice yang sedang nyenyak tidur. Humaira menarik selimut Alice. Dia tersenyum sendirian. Dia mengusik jari kaki Alice dan menggerak-gerakkannya untuk mengejutkan supaya bagung dari tidur. Entah siapa yang mengajarkan teknik tersebut tidak diketahuinya. Cuma setakat pengalaman Humaira, ia berkesan mengejutkan seseorang daripada tidur tanpa membuatkan dia terperanjat.

Alice membuka matanya.

“Isy, dah pukul berapa ni. Alice mengantuk lagi lah,” sungut Alice. Kesan keletihan kerana perjalanan jauh semalam masih terasa.

“Dah pagi Amoi oi. Jom bangun, kita sarapan. Alice kena tolong Ira buat breakfast pagi ni.”

“Alice mengantuklah, Ira buatlah sorang-sorang. Nanti dah siap, Ira kejutkan Alice ye,” jawab Alice sambil menarik selimutnya kembali.

“Iii mengada betul amoi ni, bangun-bangun.”

“Yelah, yelah. Kacau betullah Ira ni,” sungut Alice.

“Hah, macam tu lah. Ini nak tidur sahaja, bangun pagi-pagi ni elok. Murah rezeki. Burung pun keluar pagi untuk cari makanan, betul tak cik Alice?” gurau Humaira.

“Yelah, yelah, Ira nak perli Alice lah tu,” jawab Alice sambil ketawa. Mereka berdua teringat kisah di zaman persekolahan mereka. Ketika itu mereka di tingkatan satu. Alice telah menulis satu karangan Bahasa Melayu yang menceritakan tentang kerajinan. Karangan Alice telah mendapat markah yang tertinggi hingga di isi di dalam majalah sekolah mereka. Di dalam karangan tersebut, Alice telah membuat perbandingan antara manusia yang malas dengan burung-burung yang keluar pagi untuk mencari rezeki. Entah bagaimana contoh yang menarik tentang burung itu telah menyebabkan karangannya terpilih di dalam majalah sekolah mereka.

Mereka berdua bergerak ke dapur. Kelihatan makcik Limah sedang menyediakan sarapan untuk mereka berdua.

“La, ibu, kenapa ibu buatkan sarapan, kan Ira dah cakap biar kami sahaja yang sediakan sarapan,” kata Humaira seraya melihat sarapan sudah disediakan.

“Yalah tu, nak tunggu kamu berdua siap, laparlah perut ibu. Dah lah tu, ajak si Alice tu sekali minum. Nanti sejuk pula air dengan bihun goreng ni.”

Alice dan Humaira segera duduk di meja makan. Humaira membaca Basmallah secara perlahan sebelum mula mengambil makanan yang sudah terhidang. Terasa seperti ingin tercekik, Humaira lantas mencapai air yang sudah terhidang tanpa menyedari gelojohnya itu diperhatikan oleh makcik Limah.

“Hah, elok sangatlah tu minum dengan tangan kiri. Nak jadi kawan syaitan,” tegur makcik Limah tatkala melihat Humaira mengambil minuman dengan tangan kiri.

Humaira tersengih, Alice di sebelah seperti kurang faham.

“Ira tak sengajalah ibu, nak cepat sangat, tadi rasa macam nak tercekik. Maaf ya ibu.”

Alice segera cuba merungkai persoalan kepada apa yang dia baru sahaja dengar.

“Kenapa makcik kata Ira nak jadi kawan syaitan?” soal Alice.

“Ooo, sebab minum dengan tangan kiri ni amalan syaitan. Sebab tu makcik tegur Ira tu. Dia tu kalau dah lapar lupa semua.”

“Hmm, Alice tak faham lah Ira. Macam mana ibu Ira boleh tahu kalau kita minum dengan tangan kiri, kita jadi kawan syaitan.”

“Ooo, Alice ingat makcik pernah jumpa syaitan ke,” jawab makcik Limah berseloroh.

“Hehe, kelakarlah ibu ni. Kasihan Alice tu kena gelak.”

Alice turut ketawa. Dia mencari pinggang Humaira untuk dicubitnya. Geram kerana ditertawakan oleh Humaira dan makcik Limah.

“Aduih, sakitlah Alice. Okey, okey. Sorry okey amoi.”

“Hah, tu lah Alice tanya, Ira gelak pulak.”

“Alah Alice janganlah marah. Gurau-gurau sahaja. Okey biar Ira terangkan. Sebenarnya dalam Islam, dalam segala hal telah diajar. Dari bab-bab berkaitan kepercayaan atau belief, sampailah kepada bab-bab kecil seperti adab dalam makan dan minum. Nabi Muhammad Sallallahu ‘Alaihi Wassalam pernah sebut lebih kurang begini, Ira pun tidak berapa ingat susunan ayatnya, “Jangan engkau makan dengan tangan kirimu, sesungguhnya syaitan itu makan dan minum dengan tangan kirinya.”

Makcik Limah berselawat dengan perlahan tatkala mendengar Humaira menyebut nama Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wassalam. Dia teringat bahawa Humaira pernah menyatakan kepada beliau bahawa hanya orang yang kedekut sahaja tidak akan berselawat apabila mendengar nama Nabi Muhammad Sallallahu ‘Alaihi Wassalam.

“Oo sampai macam tu sekali ya Islam ajar,” Alice bersuara.

“Banyak lagi sebenarnya adab-adab ketika makan,” sambut Humaira.

“Tapi kan Ira, ramai kawan-kawan Alice yang Islam, selalu sahaja minum dengan tangan kiri. Bukan seorang dua, tapi hampir kesemua kawan-kawan Alice macam tu. Tak pernah pula ada yang tegur.”

“Hmm…,” Humairah mengeluh.

“Bukan semua orang Islam amalkan cara hidup Islam Alice. Cuba Alice tengok dalam surat khabar. Rompak, rasuah, perkosa anak gadis, itu semua dilarang Islam tapi masih ada orang Islam yang buat. Inikan pula hal-hal yang dianggap kecil seperti adab makan ni.”

Alice mendiamkan diri sahaja mendengar penjelasan Humaira. Baru dua hari dia bersama Humaira, sudah banyak pengetahuan tentang Islam yang dia perolehi. Alice merasa hairan, ramai rakan sekuliah beliau di dalam subjek perbandingan agama atau comparative religion di universitinya orang Islam. Tetapi tidak pernah mereka menerangkan tentang Islam kepadanya. Jika dia bertanya mereka tentang Islam, mereka akan cuba mengelak dari menjawab. Tidak tahulah sama ada mereka memang tidak tahu atau sebenarnya malu untuk menerangkan tentang ajaran Islam kerana cara hidup yang adakalanya terpesong dari ajaran Islam.

“Hmm. Ira, Bukhari masih ada hubungi Ira?” tiba-tiba makcik Limah memecah kesunyian.

“Ada bu, banyak kali. Tapi Ira tak jawab pun. Malas,” jawab Humaira ringkas.

“Eloklah kalau begitu. Ibu tak mahu Humaira layan dia lagi. Sudah-sudahlah apa yang sudah berlaku.”

“Insya-allah bu,” jawab Humaira.

Persoalan tentang hubungan Humaira dan Bukhari kembali menerjah masuk ke dalam kotak fikiran Alice.

“Hah, pagi ini, apa rancangan kita Alice. Apa aktiviti kita?” soal Humaira.

“Entah, Alice pun tidak tahu mahu buat apa. Ira ada apa-apa idea?”

“Hmm. Kita jalan-jalan di pekan Tampin nak. Ira pun ada barang yang mahu dibeli.”

“Ok jugak. Pukul berapa kita nak pergi?”

“Dalam pukul sepuluh pagi nanti. Awal-awal sangat pun, kedai tak buka lagi.”

Humaira dan Alice segera mengemas meja makan. Sambil mencuci pinggan mangkuk di sinki. Mereka berdua berbual-bual dan bercerita tentang kisah mereka di zaman sekolah dahulu.

“Alie ingat tak Zaid?”

“Zaid mana ya?” soal Alice.

“Alah, Zaid ketua pengawas sekolah kita dahulu.”

“Ooo, ingat, ingat. Mamat tu pernah try nak tackle Alice, hahaha,” kata Alice sambil tergelak.

“Haah, entah apa lah mamat tu, amoi sepet macam Alice ni juga yang diminatnya.”

“Iii Ira ni. Tapi Alice tak layan. Gatal. Ira ingat tak ada satu hari tu, waktu Alice sampai di kelas, Alice jumpa satu surat dalam laci meja Alice.”

“Haah, lepas tu Alice pergi baca surat tu di hadapan kelas. Habis semua kawan-kawan kita dalam kelas tahu yang Zaid minat kat Alice. Kasihan mamat tu, sudahlah syok sendiri, kantoi pula tu.”

“Tu lah, siapa suruh tackle Alice. Sejak hari tu, dia tak tegur-tegur Alice lagi,” kata Alice.

“Memanglah, malulah dia. Satu kelas dah tahu yang dia suka kat Alice. Jahat betul Alice ni, kasihan dia.”

“Haha. Padan muka. Eh Ira, ada jumpa tidak kawan-kawan lama kita sejak sekolah dahulu. Dah lama Alice tak jumpa mereka. Kita buat reunion nak.”

“Hmm. Menarik juga idea Alice. Boleh kita kumpul kawan-kawan kita. Tapi sempat ke? Alice pun ada dua tiga hari sahaja lagi di sini.”

“Alah, sempat sahaja. Ira ada simpan kan nombor telefon kawan-kawan kita. Kalau dapat lusa pun okey. Paling kurang, kalau tak dapat jumpa semua, dapat jumpa sebahagian kawan-kawan pun okey.

“Okey, nanti Ira call kawan-kawan kita. Eh okeylah, Ira nak naik atas kejap, nak solat. Alice duduk-duduklah dulu. Baca buku ke, jangan tidur sudahlah. Asyik tidur sahaja. Nanti gemuk.”

“Solat, Ira solat apa? Bukan orang Islam solat lima kali sahaja ke? Subuh, Zuhur, Asar, Maghrib, Isya’. Ni solat apa pula ni?”

“Solat Dhuha lah. Bukan solat wajib, solat sunat sahaja.”

“Oo. Okey Alice pun nak baca buku-buku yang ada di bilik Ira tu.”

Humaira terus bergerak ke bilik air untuk mengambil wudhu. Itulah rutin harian beliau semenjak menjejakkan kaki di Universiti Islam Antarabangsa (UIA). Perkenalan dengan sahabat-sahabat yang mengajaknya menyertai usrah mereka, banyak mengubah gaya kehidupannya, dari biasa-biasa sahaja di dalam kehidupan beragama akhirnya berubah menjadi muslimah yang komited, yang berusaha mengamalkan segala macam bentuk sunnah Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wassalam. Akhirnya, itulah yang membawa Humaira berubah hingga memakai niqab. Satu keputusan yang amat mengejutkan rakan-rakannya. Ada yang bersetuju, ada yang tidak tatkala beliau melahirkan hasrat untuk memakai niqab ataupun purdah.

Berbagai-bagai alasan diberikan oeh rakan-rakan Humaira. Ada yang menyatakan bahawa berniqab ini hanya satu praktis golongan ekstrimis kerana wajah bukanlah aurat, maka menutup wajah adalah satu sikap melampau di dalam beragama. Ada pula yang kurang bersetuju kerana ia mungkin akan menjarakkan lagi hubungan dengan sahabat-sahabat lain sekaligus menyukarkan kerja-kerja dakwah. Humaira mendengar hujah-hujah yang disampaikan oleh sahabat-sahabatnya. Sebenarnya, yang mendorong Humaira untuk berniqab ialah apabila dia membaca perbahasan para ulama’ tentang hukum menutup wajah bagi wanita di sebuah laman sesawang untuk muslimah http://muslimah.or.id. Itulah kali pertama beliau mengetahui bahawa ada ulama yang mewajibkan secara mutlaq bagi wanita untuk menutup wajah daripada pandangan lelaki yang bukan mahram.

Di situlah bermulanya. Humaira membaca dan terus membaca. Dia membaca hujah-hujah yang dikemukakan para ulama’ yang mewajibkan dan yang tidak mewajibkan. Akhirnya, Humaira meyakini pandangan ulama’-ulama’ yang menyatakan wajah bukan aurat, akan tetapi digalakkan untuk menutupnya bahkan sunnah kerana terdapat dalil-dalil menunjukkan ia adalah pakaian isteri-isteri Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wassalam. Lebih menarik, apabila Humaira membaca sebuah buku susunan seorang ulama’ hadis terkenal, Shaikh Muhammad Nasiruddin al-Albani, yang bertajuk ‘Jilbab Wanita Muslimah’. Ulama tersebut berpegang bahawa wajah bukan aurat berdasarkan dalil-dalil dari al-Quran, hadis dan penafsiran para sahabat, akan tetapi isteri ulama’ tersebut tetap berniqab.

Ketika Humaira sedang khusyu’ mendirikan solat sunat Dhuha, Alice pula sedang leka membaca buku-buku yang ada di ruang solat tersebut. Usai menunaikan solat, Humaira terus memanggil Alice.

“Alice, datang sini kejap, Ira nak cerita sesuatu.”

“Hah, cerita apa?” jawab Alice sambil bergerak ke arah Humaira lalu duduk di sini sahabatnya itu.

“Ira nak sambung kisah malam tadi, cerita tentang Ira dan Bukhari.”

“Hmm, tapi Alice takut Ira sedih macam malam tadi.”

“Insya-allah, tidak.”

“Okeylah kalau macam tu, lagipun awal lagi ni kalau kita mahu ke pekan,” jawab Alice.

Humaira terus mula bercerita.

***

Hubungan Humaira dengan Emmy terputus terus. Tetapi itu tidak mengubah apa-apa. Humaira masih sentiasa berhubung dengan Bukhari. Kadangkala mereka berbual-bual melalui telefon sehingga satu dua jam. Cuma mereka masih belum lagi pernah keluar berdua-duaan. Mereka hanya bertemu di kuliah-kuliah feqh, hadith dan aktiviti-aktiviti dakwah. Setakat itu sahaja. Tiada seorang pun di kalangan sahabat-sahabat mereka yang dapat menghidu perhubungan mereka berdua. Jika tidak, sudah pasti mereka tidak akan membiarkan perhubungan yang berlandaskan nafsu itu berterusan.

Entah kenapa, mungkin kerana sudah terlalu lama asyik berhubung melalui telefon, terdetik di hati Bukhari untuk mengajak Humaira keluar. Humaira menolak, sudah banyak kali permintaan Bukhari untuk keluar bersama ditolak oleh Humaira. Berbagai-bagai alasan diberikan oleh Humaira, takut dilihat oleh rakan-rakan yang lain. Entah bagaimana mudahnya syaitan memerangkap. Tidak terkeluar langsung alasan yang menyatakan bahawa perbuatan mereka itu bercanggah dengan al-Quran dan as-Sunnah yang mereka pelajari di dalam kuliah-kuliah yang mereka hadiri.

Hinggalah satu hari, Bukhari sekali lagi mengajak Humaira untuk keluar bersamanya ke Wisma Yakin di Masjid India. Katanya mahu beli kitab-kitab agama terjemahan Indonesia. Puas Humaira menolak, tetapi akhirnya dia tewas jua dengan pujuk rayu Bukhari. Tapi dia memberikan syarat:

“Nanti kita jumpa di masjid India sahaja. Nanti jika di stesen LRT Gombak, ramai student UIA, ana takut nanti ada kawan-kawan kita nampak ana dengan anta,” Humaira menghantar sms kepada Bukhari.

“Ok, Insya-allah, thank you sayang, see you there,” jawab sms Bukhari kepada sms yang dihantar Humaira.

Humaira bersiap. Memilih jubah yang amat jarang dipakainya, dengan tudung labuh berwarna merah jambu yang sedondon dengan warna jubahnya. Minyak wangi turut dipakai, sesuatu yang tidak pernah dilakukan oleh Humaira apabila mahu keluar.

Tiba di stesen LRT Masjid Jamek, Bukhari sudah kelihatan menunggu. Dia hanya tersenyum melihat Humaira. Mereka berdua berjalan beriringan. Tiada sepatah kata pun keluar. Mungkin masing-masing masih malu kerana inilah kali pertama mereka keluar berdua. Mereka terus ke Fajar Ilmu di tingkat tiga Wisma Yakin. Memilih beberapa buah buku yang akan digunakan di dalam kuliah dan usrah mereka.

Ketika membayar di kaunter, pekerja kedia tersebut hanya tersenyum sahaja melihat mereka berdua, dia berkata:

“Bagus adik berdua, muda-muda dah kahwin,” kata pekerja kedai tersebut kerana menyangka Bukhari dan Humaira adalah pasangan muda yang sudah berkahwin. Siapa sangka gadis bertudung labuh dan pemuda yang kelihatan wara’ dengan kopiah dan janggutnya sebenarnya bukanlah pasangan yang sah.

Tatkala mendengar kata-kata pekerja kedai tersebut, berubah wajah Bukhari dan Humaira. Terus mereka keluar dari kedai tersebut selepas membayar harga kesemua buku yang telah dibeli. Bukhari mengajak Humaira untuk singgah di sebuah kedai makan. Mungkin kerana lapar, lagipun memang ketika itu sudah menjangkau jam dua belas setengah tengahari.

Tatkala selesai menikmati makan tengahari, kedengaran azan dari Masjid India yang terletak berhampiran sahaja dengan kedai makan tersebut. Humaira bersuara:

“Kita solat dahulu ya, lepas solat Zuhur baru balik.”

“Okey,” jawab Bukhari pendek.

Mereka berdua berjalan ke masjid, gaya seperti pasangan yang sudah berkahwin. Sambil berbual-bual dan kadangkala bergurau senda. Tidak seperti baru berjumpa tadi, yang mana masing-masing malu untuk berkata walau sepatahpun.

Usai solat Zuhur, Humaira keluar dari masjid dan melihat Bukhari sudah sedia menunggunya.

“Kita pergi ke KLCC nak. Ada PC Fair hari ni, ana ingat nak beli barang komputer ana,” terang Bukhari.

“Hmm, okey, tapi jangan lama sangat. Ana ada assignment hendak disiapkan.”

“Ok.”

Mereka singgah di sebuah kedai cenderamata, Bukhari menunjukkan sebuah rantai kunci yang berbentuk ‘love’, yang sangat comel dan unik ukirannya. Di atasnya tertulis perkataan ‘Love You Forever’.

“Lawa tak key chain ini, kalau anti mahu ambillah, ana bayarkan.”

“Betulke anta nak belikan ana ni.”

“Betullah, takkan ana tipu. Ambillah, bukan mahalpun.”

“Thanks Bukhari,” jawab Humaira.

Mereka berjalan menuju ke stesen LRT Masjid Jamek untuk pergi ke KLCC. Ketika melintas jalan, Humaira terasa sesuatu menyentuh tangannya. Dia melihat tangan Bukhari sedang memegang tangannya ketika melintas jalan. Humaira terkejut. Dia cuba menarik tangannya. Melihatkan yang Humaira kurang selesa, Bukhari terus melepaskan tangan Humaira. Dia membisikkan kepada Humaira:

“Asif, ana tak sengaja tadi,” bisik Bukhari kepada Humaira. Humaira hanya mendiamkan diri. Mereka terus masuk ke dalam LRT selepas membeli tiket. Di dalam tren LRT mereka duduk sebelah menyebelah kerana tiada lagi tempat duduk yang kosong. Bukhari sekali lagi cuba menyentuh tangan Humaira. Beberapa kali Humaira asyik menarik tangannya, akhirnya dia membiarkan sahaja. Inilah kali pertama tubuhnya disentuh oleh lelaki bukan mahram. Tanpa rasa takut mahupun segan, cinta yang dilandasi nafsu telah melenyapkan segala perasaan malu yang selama ini dijaga.

Tanpa mereka sedari, perlakuan mereka dilihat seseorang. Syakira, seorang rakan seusrah Humaira turut berada di situ. Dia hanya berdiri jauh dari Humaira dan Bukhari kerana tiada tempat kosong untuk diduduki. Dia terkejut, Syakira mengharapkan bahawa dia tersilap orang. Istighfar beberapa kali dilafazkan. Seakan tidak percaya, pasangan yang sedang bermesra di dalam tren tersebut ialah sahabat seusrah dan sering bersama-sama menghadiri kuliah. Apatah lagi Bukhari yang turut dikenali sebagai pelajar cemerlang di kuliah al-Quran dan as-Sunnah. Syakira terkedu. Dia terkejut dan tidak tahu apa yang boleh dilakukan. Mungkin bagi penumpang-penumpang lain, mereka menyangka Humaira dan Bukhari ialah pasangan yang sudah bernikah. Masakan seorang gadis bertudung labuh dan pemuda berkopiah yang bukan mahram boleh bermesra di khalayak ramai. Mungkin inilah persepsi penumpan-penumpang tersebut.

Tren itu sampai ke stesen KLCC. Syakira yang memang secara kebetulan turut mahu ke PC Fair di KLCC terus melangkah keluar sambil melihat sahaja tingkah laku Humaira dan Bukhari. Diikutkan hati, mahu ditegur di situ sahaja, tetapi Syakira masih ragu-ragu. Akhirnya dia memilih untuk bertindak selemah-lemah iman, membenci dengan hati apa yang dilihat tanpa mengubah dengan tangan mahupun lisan.

Mereka bergerak ke lokasi PC Fair, manakala Syakirah menuju ke Masjid asy-Syakirin yang berdekatan kerana dia belum lagi menunaikan solat fardhu Zuhur. Usai solat Zuhur, Syakirah bergerak ke lokasi PC Fair di KLCC. Dia memilih perisian anti virus yang diperlukan dan sebuah pembesar suara. Di satu sudut yang berhampiran, Bukhari dan Humaira sedang melihat-lihat perisian anti virus. Humaira dan Bukhari serta Syakira tidak menyedari kehadiran antara satu sama lain. Hinggalah mereka semakin hampir di antara satu sama lain. Syakira terdengar satu suara yang amat dikenalinya.

“Anta nak beli anti virus yang mana satu?” satu suara hinggap di telinga Syakira.

Syakira melihat ke sebelah kanannya. Kelihatan Bukhari dan Humaira sedang khusyuk melihat-lihat perisian yang ada. Kedudukan mereka sangat rapat. Syakira terkedu. Apakah dia masih mahu memilih tindakan selemah-lemah iman atau dia perlu menegur mereka berdua agar perlakuan yang dilandasi nafsu itu terhenti. Syakira memikirkan bagaimanalah seandainya ada adik-adik usrah mereka ternampak naqibah-naqibah seperti mereka berkelakukan sedemikian. Naqibah-naqibah yang sentiasa tidak lekang dengan nasihat dari ayat al-Quran dan hadis yang sahih. Syakira bersuara, dia memilih untuk mencegah kemungkaran dengan lisan.

“Humaira…,” dia memanggil nama sahabatnya itu. Perlahan tetapi cukup untuk didengari oleh Humaira.

Humaira terkejut mendengar seseoran menyebut namanya. Bukhari jua. Suara yang amat dikenali Humaira. Dia memandang ke arah kirinya, terkejut, sahabat seusrahnya, Syakira, sedang memerhatikan perlakuan mereka berdua. Sunyi seketika. Humaira terdiam. Syakira tergamam, mulutnya terkunci membisu. Humaira memecah suasana. Melihatkan keadaan sedemikian, Bukhari merasa terperangkap, dia segera meminta izin untuk berlalu pergi, ke tandas katanya, meninggalkan Humaira dan Syakira berdua.

“Apa anti buat di sini?” soal Humaira.

“Hmm, ana sedang mencari-cari software anti virus, tak sangka pula berjumpa dengan anti.”

“Dah lama ke anti di sini?” soal Humaira lagi berdebar-debar.

“Tidak lah lama sangat, baru sahaja, sebab tadi ana solat di masjid asy-Syakirin.”

“Oooo,” jawab Humaira.

Syakira mahu bertanyakan tentang Bukhari, tetapi dia tidak tahu bagaimana mahu memulakannya. Tapi dia tahu, dia mesti menyatakan kebenaran kepada sahabatnya itu. Dia perlu menyedarkan sahabat seperjuangan yang mana mereka bersama-sama menjadi naqibah, mendidik adik-adik usrah.

“Anti dengan Bukhari….” Tidak sempat Syakira menamatkan ayatnya, Humaira segera memotong. Humaira sudah menjangka inilah soalan yang akan diajukan Syakira.

“Ooo, ana kebetulan bertembung dengan dia di sini ketika belek-belek anti virus. Anti tahulah ana bukan pandai sangat bab-bab komputer ni. Jadi ana minta dia tolong pilihkan anti virus yang baik untuk ana,” terang Humaira cuba menyembunyikan dosa yang baru dilakukan.

“Hmm..” Syakira mengeluh. Dia berbisik kepada dirinya. “Sanggup anti menipu ana.”

Telefon bimbit Humaira berbunyi, menandakan ada sms yang masuk menerjah inboxnya.

“Ana rasa elok ana balik sendirian, kalau tidak nanti Syakira tahu tentang kita. Bye sayang. Ukhwah Fillah. Assalamualaikum wbt.” Sms dari Bukhari kepada Humaira.

“Anti lama lagi ke di sini, ana dah nak balik sekarang, apa kata kita balik sama-sama,” Syakira mencadangkan walaupun dia masih belum puas melihat-lihat perisian yang sedia ada. Dia terus membayar harga perisian anti virus dan pembesar suara yang dibelinya. Nafsunya untuk melihat-lihat lagi barangan yang ada tertutup setelah melihat perlakukan Bukhari dan Humaira.

“Elok juga, ana pun dah lama di sini,” jawab Humaira.

Di dalam tren LRT Humaira lebih banyak bercakap berbanding Syakira. Dia tidak tahu bahawa Syakira telah menyaksika segala-galanya. Syakira pula asyik berfikir, bagaimanakah harus dia menegur sahabatnya. Singgah juga di mindanya, apakah silap dan salah tarbiah yang mereka terima selama ini hingga akhirnya Humaira terjerumus ke dalam perkara yang selama ini mereka tentang iaitu ‘Coupling’. Mereka sama-sama sejak zaman matrikulasi di Petaling Jaya, hinggalah di Gombak, tidak jemu-jemu menghadiri program-program tarbiah, usrah, kuliah, bahkan menjadi naqibah pula buat adik-adik yang lain. Humaira juga sering memberi pengisian kepada adik-adik di matrikulasi di PJ walaupun sudah berada di kampus utama Gombak. Tetapi, Humaira yang berada di hadapan Syakira hari ini bukanlah Humaira yang dahulu.